Skip to toolbar

Soal Penahanan Caping, JSI : Kurang Piknik Kalau Salahkan Bupati HM. Sanusi

MALANG,Suara Jatim.news – Jaringan Satu Indonesia (JSI) tanggapi soal kabar penahanan Aktivis Sosial Malang Raya Safril Marfadi alias Caping.

JSI menilai langkah hukum yang diambil Kepolisian atas dugaan pencemaran nama baik terhadap Bupati Malang Sanusi sudah tepat.

“Kami kira, ketika seorang pemimpin dalam kapasitasnya menjalankan tugas tugas negara (penanggulangan Covid-19) lalu diolok-olok dengan meme, kemudian berdalih sebagai bentuk kritik, bukanlah tindakan bijaksana, dari seorang yang mengaku aktivis,” ungkap Emon, badan pekerja JSI, Rabu (30/09/2020).

Dirinya juga mendukung aparat penegak hukum menjalankan fungsinya, melakukan penegakan hukum, menurutnya apa yang sudah dilakukan Polres Kepanjen sudah benar.

“Langkah yang dilakukan Polres Kepanjen sudah benar, semua warga negara merupakan subjek hukum,” imbuhnya.

Lanjut Pria yang memiliki nama lengkap Filemon wara itu, ketika aparat penegak hukum dalam hal ini penyidik kepolisian, menetapkan seseorang sebagai tersangka dan melakukan penahanan, hal itu merupakan tindakan pro justitia yang diatur oleh undang-undang.

Sebaliknya ketika seseorang merasa, status hukum yang dikenakan, terdapat kecerobohan, undang-undang juga memberikan ruang untuk melakukan perlawanan hukum, pra peradilan misalnya.

“Pada kasus Caping, juga demikian jika penetapan tersangka dan penahanan terhadap dirinya dianggap maladministrasi, maka lakukan langkah-langkah hukum, lakukan pra peradilan, itu lebih bijaksana, daripada sekedar teriak-teriak kriminalisasi, dengan mendiskreditkan korban,” ujar emon.

Menurutnya, ada dua hal yang tidak cukup elok dalam memberikan dukungan moral terhadap caping.

“Pertama, okelah betul dia seorang yang mengaku aktivis, cara memberikan dukungan moral kepada Caping dengan mendiskreditkan korban dalam hal ini Bupati Malang HM. Sanusi, akan dipandang merendahkan nalar seorang aktivis,” bebernya.

“Kedua, Caping itu katanya seorang aktivis dan bagi aktivis haram hukumnya mengiba, aktivis itu teguh mempertahankan prinsip, sorot matanya selalu tajam menatap lawan, tegar berdiri memanggul resiko dari apa yang dipilih, sekalipun konsekuensinya adalah nyawa jadi pertaruhan. Lah ini kok malah aktivis di tampilkan dengan sosok yang melow dan cengeng,” tambah emon.

Bagi seorang aktivis sejati, lanjut emon, dipenjara bahkan mati pun karena mempertahankan satu prinsip yang dia yakini benar adalah suatu sikap kesatria, karena yang tersisa dari seorang aktivis adalah harga diri.

“Lah ini katanya aktivis, baru ditahan semalam saja sudah ribut, bingung malah menyalahkan korban sebagai upaya penyelamatan. Sebaiknya sebelum mengaku aktivis, belajarlah pada pegadaian, mengatasi masalah tanpa masalah, kalau cara membela Caping seperti ini kan kasihan capingya, publik akan beranggapan dia aktivis cengeng”. beber emon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *