Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Informatif » Indonesia Darurat Kualitas Generasi Emas : Mengusut Peranan Budaya Penyebab Lonjakan Kasus Stunting Terhadap Balita

Indonesia Darurat Kualitas Generasi Emas : Mengusut Peranan Budaya Penyebab Lonjakan Kasus Stunting Terhadap Balita

(81 Views) July 24, 2022 8:28 am | Published by | No comment

SuaraJatim.News – Potret anak-anak di Wilayah 5 besar stunting tertinggi di Indonesia.

(Sumber foto : antaranews.com)

Sudah menjadi fenomena umum di Negara berkembang bahwa kualitas kesehatan masih menjadi masalah terbesar yang mempengaruhi kemajuan Negara. Dicantumkannya permasalahan kesehatan ini pada SDGs ke-3 yaitu “Good Health and Well Being” menandakan bahwa kesehatan turut menjadi topik yang harus diperhatikan lebih oleh seluruh Masyarakat. Terhitung berdasarkan data terakhir dari United Nations Childrens Fund (UNICEF) di Tahun 2014, terdapat 144 juta atau 21,3% anak-anak di bawah 5 tahun masih mengalami stunting. Dari data ini disebutkan pula bahwa penderita terbanyak diduduki oleh Wilayah Asia dengan jumlah 78.2 juta anak (21.8%), yang mana pada persentase di Asia Tenggara masih berjumlah sekitar 13,9 juta anak yang mengalami stunting.

Sementara itu, berdasarkan data yang dikeluarkan Kementrian Kesehatan RI atas Hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 disebutkan bahwa masih terdapat 24,4% balita yang mengalami stunting dengan angka prevalensi tertinggi diduduki oleh NTT (37,8%), Sulawesi Barat (33,8%), Aceh (33,2%), NTB (31,4%), dan Sulawesi Tenggara (30,2%). Meskipun stunting di daerah lainnya tidak terhitung tinggi, namun permasalahan stunting ini harus ditindaklanjuti lebih tegas lagi. Pasalnya kasus kekerdilan yang berdampak pada fisik dan kualitas hidup anak tersebut hingga dewasa tersebut menyerang sejak dari kandungan hingga 1000 hari pertama.Stunting yang dialami balita akan berpengaruh pada produktivitasnya di saat dewasa yang mana riwayat ini pula akan menambah risiko terkena penyakit metabolik sepeti diabetes melitus, hipertensi, jantung koroner, dan stroke nantinya.

“Stunting menyebabkan aktivitas motorik anak rendah yang otomatis akan menyebabkan keterlambatan dalam perkembangan mental sekaligus kognitif yang akhirnya menyebabkan anak terlihat tidak ceria dan cekatan dibandingkan anak-anak lain seusianya,” kutip Sakti. Dalam penelitian yang dilaksanakan oleh Monika Teguh, selaku dosen Universitas Ciputra ditemukan suatu kasus bahwa adanya stunting ini disebabkan oleh adanya pola asuh anak yang salah. Kurangnya gizi yang diterima oleh anak dan seharusnya berisikan makronutrien berupa protein dan mikronutrien yaitu kalsium, seng, dan zat besi tergantikan dengan adanya pengaruh warisan budaya lama yang masih dipercaya oleh khalayak.

Budaya yang dimaksud disini adalah bagaimana pola asuh masa lalu yang kontradiktif dengan keilmuan masa kini dan ditambah adanya tradisi nikah muda. Perempuan dengan pernikahan di bawah usia 17 tahun berisiko lebih besar untuk melahirkan anak dalam kondisi stunting. Hal ini ditunjukkan dengan tingkat pernikahan dini di Indonesia yang masih tinggi bahkan terhitung dalam peringkat kedua di ASEAN. “Banyak yang menganalogikan makan kenyang lebih penting dan anak yang gemuk adalah bentuk keberhasilan dalam mengasuh,” ujar peneliti. Maka tak ayal, Masyarakat di Wilayah pesisir Trenggalek memberikan asupan mie instan dengan dalih karbohidrat yang terkandung mampu membuat kenyang dan gemuk anaknya. Selain itu, adanya larangan konsumsi misalnya pada cumi, gurita, ikan, maupun kerang karena alasan kekhawatiran janin yang amis. Ataupun budaya lain yang menyatakan makan besar akan membuat bayi terlalu besar dan sulit dilahirkan menjadikan pemahaman ini salah kaprah untuk perkembangan ibu hamil.

Kurangnya pemahaman dari orang tua serta tidak adanya tanda-tanda gejala dari stunting ini membuat para orangtua berpikir bahwa hal yang dialami anaknya hanyalah kurus, sementara balita yang gemuk dianggap lucu dan sehat. Padahal tolak ukur kesehatan balita ada pada kecukupan gizi. Adapaun beberapa faktor lain yang menyebabkan stunting di Indonesia ini adalah ketahanan pangan yang masih sulit diakses, intervensi dari lingkungan sosial, norma, Pendidikan, dan pemahaman yang dimiliki. Selain itu, minimnya pelayanan Kesehatan dan Wilayah pemukiman baik di sisi sanitasi maupun bangunan turut menjadi alasan tingginya kasus stunting di Indonesia. Diperlukan adanya edukasi serta penyadaran kepada para orang tua untuk mempertimbangkan skala prioritas dari pengurusan tumbuh kembang anak, yang mana telah disiapkan oleh Dinas Kesehatan menjadi prioritas adalah pada Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), jaminan pelayanan kesehatan masyarakat, gizi, kesehatan lingkungan, dan gaya hidup. Pemerintah juga telah mencanangkan dan berinisiasi dengan DPR RI untuk melibatkan pihak-pihak instansi dalam memberikan cuti 6 bulan bagi ibu yang baru saja melahirkan. Sebab, tumbuh kembang anak ke depannya bermula dari perawatan dan pendampingan yang baik. Apabila generasi muda masih terganggu dengan stunting siapakah yang akan melanjutkan estafet negeri ke depannya.

Penulis : Monika Teguh S.Sos. M.Med.Kom & Kirana Ratu Sekar Kedaton


Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/hengkyabidin/public_html/suarajatim.news/wp-content/themes/magazimple1.0dev/addthis.php on line 4
Categorised in: ,

No comment for Indonesia Darurat Kualitas Generasi Emas : Mengusut Peranan Budaya Penyebab Lonjakan Kasus Stunting Terhadap Balita

Leave a Reply

Your email address will not be published.


Notice: Undefined variable: options in /home/hengkyabidin/public_html/suarajatim.news/wp-content/themes/magazimple1.0dev/footer.php on line 17

Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home/hengkyabidin/public_html/suarajatim.news/wp-content/themes/magazimple1.0dev/footer.php on line 17