Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Investigatif » Tak BECUS, Enam Bulan Berlalu DUGAAN Kasus Sunatan Massal BANSOSIDOARJO Masih Tak JELAS Salah Satunya di Desa BANJARSARI

Tak BECUS, Enam Bulan Berlalu DUGAAN Kasus Sunatan Massal BANSOSIDOARJO Masih Tak JELAS Salah Satunya di Desa BANJARSARI

(658 Views) April 16, 2021 3:26 am | Published by | No comment

Sidoarjo-SJN. Kasus PEMOTONGAN alias SUNATAN Massal dana bantuan sosial (BANSOS) di SIDOARJO masih terus BERGULIR bahkan tak JELAS. Komisi D DPRD Sidoarjo masih banyak menerima ADUAN tentang DUGAAN itu. Komisi D DPRD Sidoarjo sendiri sedang menunggu PERKEMBANGAN tindak lanjut dari Dinas Sosial dan Bank BNI. ENAM bulan lalu, saat hearing (rapat bersama) bersama dewan, mereka menyatakan SIAP GERAK MAJU JALAN menindaklanjuti DUGAAN Sunatan Massal Dana BANSOSIDOARJO ini.

“Tapi sampai sekarang ENAM Bulan BERLAKU nan BERLALU masih tidak ada LAPORAN Kemajuan (progres) atau INFIORMASI apapun dari mereka. Progressnya seperti apa, kami juga menunggu, “kata Bangun Winarso, anggota Komisi D, Rabu (14/04/2021). Bangun Winarso berharap, Dinsos dan BNI secepatnya mengambil langkah siap gerak maju jalan agar peristiwa pemotongan atau SUNATAN MASSAL lain dalam pengucuran BanSos di Sidoarjo tidak terulang lagi. “Jika memang tetap rumit dan SEMERAWUT Pemkab Sidoarjo dapat mengajukan pergantian bank penyalur dan dewan akan merekomendasikan itu, jika persoalan ini tak kunjung selesai, “lanjut politisi PAN tersebut.

Laporan yang masuk ke DPRD Sidoarjo, persoalan penyaluran bansos terjadi hampir di semua wilayah di Sidoarjo. Termasuk pengaduan tentang adanya pemotongan alias sunatan massal dan persoalan lain. Beberapa masalah yang muncul, di antaranya ada beberapa agen penyalur yang menyalahi aturan, ada ATM warga penerima yang tidak DISERAHKAN, ada juga persoalan Nominal SEMBAKO yang diserahkan tidak sesuai nominal ketentuan, dan sebagainya.

“Persoalannya banyak termasuk dalam penyaluran bantuan PKH dan BPNT (bantuan pangan nontunai). Kami tidak berhenti pada hearing kemarin, kami akan terus persoalan ini sampai tuntas agar tidak terulang lagi,” urainya. Dalam hearing di dewan pekan lalu, terungkap dugaan pemotongan dana bansos oleh agen BNI, serta permainan-permainan NAKAL menggairahkan dalam penyaluran bantuan di Sidoarjo.

SOBIRIN, salah satu WARGA penerima bantuan asal Desa BANJARSARI Tanggulangin-Sidiarjo yang dihadirkan dalam pertemuan itu menceritakan beberapa KEJANGGALAN. Diantaranya, kartu ATM miliknya beberapa kali dibawa oleh agen Bank BNI. “Sebelumnya pernah dikasih 7 sak beras, kemudian pernah dipanggil lagi hanya dapat 6 sak. Saya terima saja, wong dikasih,” ujar SOBIRIN. Setelah beberapa bulan, dia mengaku juga mendapat beras dua kilo, telur 15 butir, minyak goreng dan gula. “Tapi kartu ATM itu saya minta tidak boleh, dibawa terus lah saya kalau ambil bantuan menunjukkan KTP, “akunya.

Hal serupa disampaikan SAMSUL, Arif, penerima bantuan yang juga dihadirkan dalam pertemuan ini. “Saya juga tidak pegang ATM. Sama, kalau ambil bantuan hanya menunjukkan KTP, “jawabnya. Beberapa pendamping PKH yang hadir di pertemuan ini juga mengungkap berbagai KEJANGGALAN. Bukan hanya di Banjarsari, persoalan pemotongan dana bansos oleh agen Bank BNI juga DIDUGA terjadi di Desa Kalitengah dan Prambon

“Kalau pemotongan Rp 10 ribu kami rasa wajar, untuk administrasi mungkin. Tapi asa bantuan harusnya Rp 500 ribu, diberikan Rp 300 ribu dan beras. Juga banyak persoalan lain,” kata Endang, pendamping asal Prambon. Pendamping lain yang minta dipanggil Bunga bahkan mempertanyakan sistem rekrutmen agen oleh Bank BNI. Dia dan rekan-rekannya melihat, pihak luar mendaftar jadi agen sangat sulit dan berbelit. Tapi jika dari keluarga pegawai atau orang dekat bank, bisa dengan mudah jadi agen.

Menurut Tosan Iksan, kordinator pendamping PKH Sidoarjo, terbongkarnya berbagai persoalan ini berawal dari temuan beberapa warga penerima atau KPM yang tidak membawa kartu ATM. Setelah ditelusuri, ternyata ATM-nya dibawa oleh agen BNI. “Dan kita coba tanya ke yang lain, ternyata banyak KPM yang kartunya dibawa agen, “ungkap dia.

Dalam proses penelusuran itu, terungkap juga ada selisih nominal yang diterima. Ada bukti struknya. Selisih rata-rata Rp 50 ribu. Harusnya menerima Rp 200 ribu perbulan, tapi hanya Rp 150 ribu. “Kalau disebut Rp 150 ribu plus beras 15 kg dan telor, Itu kan tidak sesuai. Berapa nilai beras dan telornya itu. Padahal, mereka juga sebenarnya berhak dapat bantuan pangan nontunai,” sebut dia.

Kepala Dinsos Sidoarjo-TIRTO Adi mengaku sudah mengambil sejumlah langkah setelah menerima laporan tentang perkara ini. “Kami telusuri dan klarifikasi, ada bukti-bukti pemotongan dan sebagainya. Kami juga sudah menyurati BNI, meminta agar dilakukan pencabutan izin terhadap agen yang melakukan penyimpangan, serta meminta agar uang potongan dikembalikan,” urainya.

Pimpinan BNI Sidoarjo, Muhammad Muadzom, yang hadir dalam pertemuan ini menyebut ada 880 agen BNI di Sidoarjo. Mereka adalah kepanjangan tangan BNI, khususnya dalam penyaluran bansos.” Kami sudah menelusuri itu, dan kami berharap kita bersama menuntaskan persoalan ini. Terhadap agen yang nakal atau menyalahi prosedur, tentu kami akan bertindak tegas,” jawab Muadzom.

Dia juga berjanji akan mengevaluasi semua agen. “Jika bisa dibina, akan kita bina. Jika tidak, ya kita binasakan,” tegasnya. Tapi sampai sekarang, tindak lanjut itu belum jelas. Dewan juga menunggu pemberitahuan atau laporan terkait langkah yang sudah diambil oleh Dinsos dan Bank BNI selaku bank penyalurnya. sob-rif

KaDiSosidoarjo-TIRTO Adi dan SJN

 

Categorised in:

No comment for Tak BECUS, Enam Bulan Berlalu DUGAAN Kasus Sunatan Massal BANSOSIDOARJO Masih Tak JELAS Salah Satunya di Desa BANJARSARI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Notice: Undefined variable: options in /home/u3281444/public_html/suarajatim.news/wp-content/themes/magazimple1.0dev/footer.php on line 17